Minggu, 14 Mei 2017

IKM

ilmu kesehatan masyarakat
dosen pengampu : Tuti meihartati, S, ST, M.kes 

 BAHAYA NYAMUK PADA SISWA-SISWI

DI SDK ST. VINCENT DS. GUNUNG BESAR

KAB. TANAH BUMBU

Ayu Sukoco Putri
Dosen Program Studi DIII Kebidanan STIKES Darul Azhar Batulicin

ABSTRAK

Kegiatan pengabdian dilatar belakangi dari banyaknya bahaya nyamuk bagi tubuh khususnya pada anak SD yang ada di SDK St. Vincent Ds. Gunung Besar Kabupaten Tanah Bumbu. Selain dari pada itu makanan dibutuhkan tubuh sebagai sumber energi utama bagi tubuh.Rumusan masalah dalam pengabdian ini adalah : 1). Pengertian nyamuk 2). Apa penyebab perkembangan nyamuk 3). Apa saja tanda dan gejala yang ditimbulkan dari nyamuk 4). Bagaimana pencegahan penyebaran nyamuk. Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan dalam bentuk suatu penyuluhan singkat selama30 menit dengan anggota sebanyak 20 siswa siswi kelas 2 yang dilaksanakan di SDK St. Vincent.. Metode yang digunakan dalam melaksanakan kegiatan pengabdian ini adalah metode ceramah, Tanya jawab, dan diskusi,. Berdasarkan pengamatan selama kegiatan pengabdian kepada siswa siswi kelas 2 berlangsung, diperoleh beberapa hasil yang positif, diantaranya adalah: 1). Para peserta menunjukkan perhatian yang sangat tinggi terhadap materi pengabdian yang disampaikan oleh tim pengabdian. 2). Para pesertaaktif bertanya.

Kata Kunci :Pengetahuan., cacingan, siswa-siswi


PENDAHULUAN

Pemberitaan di media mnyebutkan semakin banyaknya penyakit yang menyerang anak-anak di Indonesia, hal ini menunjukkan bahwa kesehatan anak merupakan hal yang sangat penting untuk diperhatikan. Tingkat kesehatan anak Indonesia yang semakin menurun berkaitan dengan tingkat pengetahuan kesehatan yang kurang. Dalam hal ini yang berperan dalam pengetahuan kesehatan anak tidak hanya orang tua saja tetapi juga pihak lainnya dan salah satu adalah sekolah. Selain itu, faktor orang tua yang mungkin berperan antara lain status ekonomi dan tingkat pendidikan orang tua. Peran sekolah dalam pendidikan kesehatan pada anak selain dalam proses pembelajaran yang formal, juga disertai dengan penerapan sikap dan perilaku kesehatan pada anak-anak.
Meskipun kesehatan selalu menjadi topik utama di Indonesia, seperti yang ditunjukkan selama 25 tahun pertama rencana pembangunan. Namun masih banyak kendala-kendala yang di hadapi, sehingga tetap munculnya kasus-kasus lama ataupun baru di bidang kesehatan dan dalam hal inilah perlu di tangani lebih mendalam mengenai hal-hal penyulitnya.
Keberadaan nyamuk sejak dulu tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Dari interaksi yang disebabkan antara nyamuk dan manusia terkadang memberikan permasalahan tersendiri bagi manusia. Manusia sering terusik dengan nyamuk dan wabah yang disebabkannya itu, tidak jarang nyamuk membawa virus penyakit yang berbahaya dan dapat mengancam keselamatan jiwa. Salah satu wabah yang bisa mengancam nyawa manusia yang disebarkan oleh nyamuk adalah penyakit Demam Berdarah Dengue atau yang biasa kita kenal dengan DBD.
Penyakit demam berdarah tersebut disebabkan oleh virus dengue yang dibawa dan disebarkan oleh salah satu jenis nyamuk betina bernama Aedes Aegypti. Sampai sekarang di media masa terutama pada saat musim penghujan sering didengar tentang wabah penyakit demam berdarah yang disebabkan oleh nyamuk Aedes Aegypti, dan masih menjadi permasalahan tersendiri yang masih harus sering diwaspadai. Pemerintah pun terus mengingatkan masyarakat tentang ancaman bahaya demam berdarah melalui program 3M yang sering diberitahukan melalui media elektronik seperti televisi maupun media cetak seperti koran, dan lain-lain. Karena jika dilihat secara seksama, permasalahan penyakit yang disebabkan oleh nyamuk DBD tersebut selalu muncul setiap tahunnya.
Padahal segala macam bentuk pencegahan, pensosialisasian, hingga pemberantasan nyamuk DBD sering diadakan di masyarakat setiap tahunnya. Kebiasaan dan kesadaran manusia yang kurang hidup bersih dan sehat seringkali memperkeruh permasalahan yang ada. Pemahaman yang kurang dan ketidak jelian dalam mendeteksi suatu penyakit sering kali mengakibatkan keterlambatan penanganan yang berpotensi meningkatkan resiko kematian bagi penderita. Kesalahan dalam melakukan penanganan pun dapat menjadi masalah yang berakibat fatal apabila tidak didukung dengan pengetahuan yang benar dan tepat dalam menangani kasus DBD.
Karena kesembuhan penyakit DBD tersebut tergantung pada kecepatan perawatan dan penanganan. Namun apabila seorang penderita sudah dideteksi terkena DBD sejak dini namun diberi penanganan yang tidak tepat dan salah, maka hal tersebut dapat memperparah keadaan yang seharusnya dapat dengan segera ditanggulangi tetapi malah memperburuk keadaan karena kesalahan dan ketidak tepatan dalam melakukan penanganan . Namun tidak semua orang memiliki kesadaran untuk melakukan tindakan preventif yang lebih bijaksana. Masih saja ada warga yang terkesan menyepelekan hal tersebut. Masyarakat seringkali berinisiatif mengatasi setelah semuanya terlambat, karena kewaspadaan terhadap gejala DBD masih belum tinggi, sehingga kemungkinan untuk membawa keadaan yang semakin parah seperti kematian menjadi semakin besar. Sementara bahaya nyamuk demam berdarah tetap menjadi ancaman bagi masyarakat dan kesadaran masyarakat masih belum terbangun dengan baik.
Oleh karena itu, masyarakat dirasa masih perlu untuk ditingkatkan kewaspadaannya dalam menyikapi gejala penyakit, terutama penyakit Demam Berdarah Dengue yang selalu mengancam setiap tahunnya dan dapat mengakibatkan kematian. Karena itu peranan media dalam menyampaikan informasi serta cara pengkomunikasian yang dapat tertanam dalam benak masyarakat memiliki andil yang besar dan berpengaruh dalam membangun persepsi dan perilaku masyarakat selama ini, dengan harapan dalam melakukan penanganan DBD tersebut dapat dilakukan dengan lebih bijak.

METODE PELAKSANAAN

Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan dalam waktu singkat selama 30 menit dengan anggota sebanyak 20 orang siswa-siswi kelas 2 di SDK St.Vincent.
Langkah-langkah pelaksanaan kegiatan adalah sebagai berikut: Tim pengabdian membahas mengenai teori bahaya nyamuk meliputi pengertian nyamuk,penyebab dan cara penularan  nyamuk, tanda dan gejala penyakit yang ditimbulkan oleh nyamuk, pencegahan penyebaran nyamuk.

Realisasi Pemecahan Masalah.

Kegiatan yang dilakukan dalam mencapai tujuan pengabdian kepada masyarakat ini adalah sebagai berikut:
1.       Persiapan.
a.    Mengurus surat izin dan surat tugas untuk melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat.
b.    Menghubungi Kepala Sekolah SDK St. Vincent ibu Sisilia S.Pd. SD menetapkan jumlah peserta dan jadwal pelaksanaan pengabdian kepada siswa siswi SD.
2.       Pelaksanaan.
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan pada tanggal 17 Maret 2017 di SDK St. Vincent Desa Gunung Besar Kabupaten Tanah Bumbu

Khalayak Sasaran.

Sebagai peserta dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah para siswa-siswi kelas 2 di SDK St. Vincent Tanah Bumbu.

Metode yang digunakan.

Metode            yang digunakan dalam melaksanakan kegiatan pengabdian ini adalah metode ceramah, Tanya jawab, dan diskusi.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan pengamatan selama kegiatan pengabdian kepada masyarakat berlangsung, diperoleh beberapa hasil yang positif, diantaranya adalah:
1.              Para peserta menunjukkan perhatian yang sangat tinggi terhadap materi pengabdian yang disampaikan oleh tim pengabdian.
2.              Para peserta aktif bertanya dan mereka bersemangat untuk dapat menerapkan pola hidup sehat di rumah masing-masing dalam keseharian.

Ditinjau dari segi materi pengabdian yang disampaikan, banyak pengalaman atau pengetahuan baru yang diperoleholeh siswa-siswi yang ada di SDK St. Vincent Desa Gunung Besar Kabupaten Tanah Bumbu Provinsi Kalimantan Selatan.
Secara umum kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan oleh tim pengabdian masyarakat ini tidaklah menemukan kendala yang cukup berarti, dalam artian bahwa pelaksanaan kegiatan ini cukup lancar. Hanya saja karena keterbatasan dana untuk pelaksanaan pengabdian ini, maka menyebabkan keterbatasan bentuk, jenis, dan waktu pelaksanaan kegiatan.

KESIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan pada bagian sebelumnya, diperoleh kesimpulan bahwa kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dapat:
1.            Meningkatkan pengetahuan bagi siswa-siswi tentang makanan yang sehat di SDK St. Vincent Desa Gunung Besar Kabupaten Tanah Bumbu Provinsi Kalimantan Selatan.
2.              Meningkatkan semangat para siswa-siswi demi menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh dengan memakan makanan yang bergizi.
Berdasarkan kepada hasil yang diperoleh maka dapat disarankan beberapa hal sebagai berikut:
1.  Berdasarkan permintaan dari peserta, hendaknya kegiatan-kegiatan seperti ini dapat ditingkatkan frekuensi pelaksanaannya.
2.  Biaya untuk pelaksanaan kegiatan ini hendaknya lebih ditingkatkan, sehingga dapat melaksanakan kegiatan lebih variatif dan waktu lebih lama.

DAFTAR PUSTAKA


A.A. Anwar Prabu Mangkunegara. (2010) Manajemen Sumber daya Manusia. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.
Adisamito W. (2007). Sistem Kesehatan.  ED1. Jakarta : PT. Rajagrafindo Persada.
Almatsier S. (2001). Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta : PT. Gramedia pusaka utama.
Anonim. (2004) . Pedoman Pengobatan Dasar di Puskesmas. Yogyakarta: Depkes RI
Chandra, Dr. Budiman. (2007). Pengantar Kesehatan Lingkungan.  Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran. Hal 124, dan 144-147.
Corwin, Elizabeth. (2002). Patofisiologi. Jakarta : EGC.
Doenges. (2003). Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman Untuk Perencanaan Dan Pendokumentasian. Jakarta : EGC.
Ikatan Dokter Anak Indonesia. (2002). Tumbuh Kembang Anak dan Remaja. Ed1. Jakarta: Sagung seto.
Judarwanti, Widodo. (2010) . Deteksi Dini dan Pencegahan Penyakit Cacing Pada Anak.Yogyakarta: Depkes RI
Machfoedz I, Suryani E. (2007). Pendidikan Kesehatan bagian dari promosi kesehatan.yogyakarta : Fitramaya
Mansjoer,Arifin. (2004) . Kapita Selekta Kedokteran Edisi ke-3 jilid 1.  Jakarta : Media Aesculapius Fakultas Kedokteran UI.
Muninjaya AAG. (2004). Manajemen Kesehatan. Ed2. Jakarta : EGC.
Narendra MB, dkk. (2008). Tumbuh Kembang Anak dan Remaja jilid 1. Ed1. Jakarta : Sagung Seto.
Notoatmojo S. (2007). Promosi Kesehatan dan Ilmu Prilaku. Jakarta : Rineka Cipta.
Sediaoetama AD. (1985). Ilmu Gizi. Jakarta : Dian rakyat.

Jumat, 12 Mei 2017

KOMPRESI BIMANULA INTERNAL DAN EKSTERNAL

"ASUHAN KEGAWATDARURATAN DAN NEONATAL"
dosen pengampu: Lidia Widia, S.ST., M.Kes


BAB I
PENDAHULUAN
    A.  Latar Belakang
Persalinan dan kelahiran merupakan kejadian fisiologis yang normal dalam kehidupan. Namun dapat menjadi patologis atau tidak normal sesuai dengan kondisinya. Bidan sebagai tenaga medis terdepan ditengah masyarakat memegang peranan yang sangat penting untuk dapat memberi pendidikan kepada masyarakat, sehingga dapat ikut serta menurunkan angka kemantian ibu ( AKI ) dan angka kematian bayi ( AKB ).  Dalam melakukan asuhan pada kala I,II,III,dan IV harus diberikan sesuai dengan kebutuhan klien.

Kala III dimulai sejak bayi lahir sampai lahirnya plasenta. Rata-rata lama kala III berkisar 15-30 menit, baik pada primipara maupun multipara. Rata-rata kematian pada ibu dialami pada kala III, salah satu penyebabnya adalah atonia uteri atau suatu kondisi dimana miometrium tidak dapat berkontraksi dan bila ini terjadi maka darah yang keluar dari bekas tempat melekatnya plasenta menjadi tidak terkendali.
Keadaan ini dapat terjadi apabila uterus tidak berkontraksi dalam 15 detik setelah dilakukan rangsangan taktil fundus uteri dan untuk mengatasinya segera dilakukan kompresi bimanual internal ( KBI ) dan kompresi bimanual eksternal (KBE).

    B.   Rumusan Masalaha
1.    Apa yang dimaksud dengan kompresi bimanual ?
2.    Bagaimana langkah dalam melakukan KBI dan KBE?

    C.  Tujuan Penulisan
1.    Untuk mengetahui maksud dari kompresi bimanual.
2.    Untuk mengetahui bagaimana langkah dalam melakukan KBI dan KBE


BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Kompresi bimanula adalah serangkaian proses yang dilakukan untuk menghentikan perdarahan secara mekanik. Proses mekanik yang digunakan adalah dengan aplikasi tekanan pada korpus uteri sebagai upaya pengganti kontraksi miometrium(yang semantara waktu tidak berkontyraksi). Kontraksi miometrium dibutuhkan untuk menjepit anyaman cabang-cabang pembuluh darah besar yang berjalan diantaranya.
Proses ini dilakukan dari luar (KBE) atau dari dalam (KBI), tergantung tahapan upaya mana yang memberikan hasil atau dapat mengatasi perdarahan yang terjadi. Bila kedua cara itu tidak berhasil, segera lakukan usaha lanjutan yaitu kompresi aorta abdominalis.
Pada keadaan yang sangat terpaksa dan tempat rujukan yang sangat jauh, walaupun bukti-bukti keberhasilan kurang mendukung, tetapidapayt dilakukan tindakan alternatif yaitu pemasangan tampon padat uterovagina dan kompresi eksternal.
Upaya-upaya tersebut diatas sebaiknya dikombinasikan dengan uterotonika (oksitosin 20 IU, ergometrin 0,4 mg dan / atau mesopostrol 600 mg).


B. Indikasi
Perdarahan yang disebabkan oleh atonia uteri. Kompresi bimanual dilakukan jika terjadi atonia uteri pasca persalinan. Dalam kaput ini, uterus tidak berkontraksi dengan penatalaksanaan aktif kala III selama 15 detik setelah plasenta lahir.
1.    Kaji ulang indikasi
2.    Kaji ulang prinsip dasar perawatan
3.    Berikan dukungan emosional/ psikologis ibu
4.    Cegah infeksi sebelum tindakan
5.    Kosongkan kandung kemih, pastikan perdarahan karena atonia uteri
6.    Segera lakukan KBI selama 5 menit jika perdarah karena atonia uteri
7.    Pastikan plasenta lahir lengkap


     1.  Kompresi Bimanual Internal (KBI)
1.    Pakai sarung tangan DTT atau steril. Dengan lembut masukkan secara obstetri, tangan (menyatukan kelima ujung jari) melalui introitus kedalam vagina ibu.
2.    Periksa vaginan dan servik jika ada selaput ketuban atau bengkuan darah pada kavum uteri mungkin hal ini yang menyebabkan uterus tidak berkontraksi secara penuh atau sempurna.
3.    Kepalkan tangan dalam dan tempatkan pada vorniks anterior tekanan dinding anterior uterus kearah tangan luar yang menahan, dan mendorong didnding posterior uterus kearah depan sehingga uterus tertekan dari arah depan belakang
4.    Tekan kuat uterus dikedua tangan. Kompresi uterus memberikan tekanan langsung pada pembulih darah yang terbuka (bekas implantasi plasenta) didinding uterus dan juga merangsang miometrium untuk berkontraksi.

Evaluasi Keberhasilan
1.    Jika uterus berkontraksi dan perdarahan berkurang teruskan melakukan KBI selama 2 menit, kemudian perlahan-lahan keluarkan tangan dan pantaukan ibu secara melekat selama kala IV
2.    Jika uterus berkontraksi tetapi perdarahan masih berlangsung, periksa ulang perinium, vagina dan servik apakah terjadi laserasi. Jika terjadi laserasi segera lakukan penjahitan untuk menghentikan perdarahan.
3.    Jika uterus tidak berkontraksi selama 5 menit ajarkan keluarga untuk melakukan KBE kemudian lakukan langkah-langkah penatalaksanaan atonia uteri selanjutnya. Minta keluarga mulai menyiapkan rujukan.
4.    Berikan ergometrin 0,2 mg IM atau mesopostrol 600-1000 mcg / rektal. Jangan berikan er\gometrin pada ibu dengan hipertensi karena ergometrin dapat meningkatkan tekanan darah.
5.    Gunakan jarum berdiameter besar ukuran (16-18) pasang infus dan berikan larutan RL yang mengandung oksitosin 20 IU. Jarum berdiameter besar memungkinkan pemberian larutan infus secara IV dengan cepat dan dapat dipakai untuk transfusi darah (jika diperlukan). Oksitosin dapat merangsang uterus, sedangakan cairan RL dapat berfungsi sebagai rehidrasi volume cairan yang hilang akibat perdarahan.
6.    Jika uterus tidak berkontraksi dalam 1-2 menit, segera rujuk ibu karena hal ini mengindikasikan bahwa keadaan tersebut bukan atonia biasa. Ibu memerlukan tindakan kegawatdaruratan segera difasilitas rujukan yang mampu melakukan tindakan operatif dan transfusi darah.
7.    Sambil membawa ibu ketempat rujukan teruskan tindakan KBI dan infus cairan sampai tempat rujukand engan pertimbangan: infus 500 ml pertama harus habis dalam 10 menit, berikan tambahan 500 ml/jam hingga tiba ditempat rujukan atau hingga cairan yang diinfuskan 1,5 liter dan kemudian lanjutkan dalam 125 cc/jam. Jika cairan infus tidak mencukupi, infus 500 ml ( botol ke 2) cairan infus dengan tetesan sedang dan ditambah dengan pemberian peroral untuk dehidrasi.

     2.   Kompresi Bimanual Eksternal
Cara melakukan kompresi bimanual eksterna:
1.    Penolong berdiri menghadap sisi kanan pasien
2.    Tekan ujung jari telunjuk, tengah, dan jari manis salah satu tangan disimfisis dan umbilikus pada korpus depan bawah sehingga fundus uterus naik kearah dinding abdomen.
3.    Letakkan sejauh  mungkin telapak tangan lain dikorpus uterus bagian belakang dan dorong uterus ke arah korpus depan.
4.    Geser parlahan-lahan ujung ketiga jari tangan pertama kearah fundus sehingga telapak tangan dapat menekan korpus uterus bagian depan
5.    Lakukan kompresi korpus uterus dengan jalan menekan dinding belakang dan dinding depan uterus dengan telapak tangan kiri dan kanan (mendekatkan tangan belakang dan depan)
6.    Perhatikan pendarahan. Bila pendarahan berhenti, pertahankan posisi tersebut hingga uterus dapat berkontraksi dengan baik. Bila perdarahan belum berhenti, lanjutkan tindakan pertolongan berikutnya.




BAB III
PENUTUP
   A.  Kesimpulan
Kompresi bimanula adalah serangkaian proses yang dilakukan untuk menghentikan perdarahan secara mekanik. Kompresi bimanual ini terbagi menjadi 2, yaitu kompresi bimanual internal dan eksternal. Kompresi bimanual dilakukan dengan meletakkan tangan luar dibelakang uterus dan menekannya terhadap tangan lain yang terletak dalam vagina pada forniks vaginae anterior dan dikepal menjadi tinju. Komprosi ini dilakukan antara 2 tangan sampai perdarahan berhenti.

    B.   Saran
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak kekurangan, oleh sebab itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun. Dalam pembuatan makalah ini kami tidak luput dari kesalahan.
Dan semoga dengan selesainya makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan teman-teman. Amin.

DAFTAR PUSTAKA
Sumarah, dkk. 2009. Perawatan ibu bersalin. Yogyakarta : Fitramaya
Rohani, dkk. 2011. Asuhan kebidanan pada masa persalinan. Jakarta : Salemba Medika
Setyorini, Retno Heru. 2013. Belajar tentang persalinan. Yogyakarta : Graha Ilmu.

Sulistyawati, Ari dkk. 2010. Asuhan kebidanan pada ibu bersalin. Jakarta : Salemba Medika

Jumat, 21 April 2017

PERSALINAN LETAK SUNGSANG

ASUHAN KEGAWATDARURATAN MATERNAL DAN NEONATAL
DOSEN PENGAMPU: LIDIA WIDIA, S.ST., M.Kes




PERSALINAN LETAK SUNGSANG

Kematian perinatal langsung yang disebabkan karena persalinan presentasi bokong sebesar 4-5 kali dibanding presentasi kepala. Sebab kematian perinatal pada persalinan presentasi bokong yang terpenting adalah prematuritas dan penanganan persalinan yang kurang sempurna, dengan akibat hipoksia atau perdarahan di dalam tengkorak. Trauma lahir pada presentasi bokong banyak dihubungkan dengan usaha untuk mempercepat persalinan dengan tindakan-tindakan untuk mengatasi macetnya persalinan.Letak sungsang merupakan keadaan dimana janin terletak memanjang dengan kepala di fundus uteri dan bokong berada di bagian bawah kavum uteri (2). Tipe letak sungsang yaitu: Frank breech (50-70%) yaitu kedua tungkai fleksi ; Complete breech (5-10%) yaitu tungkai atas lurus keatas, tungkai bawah ekstensi ; Footling (10-30%) yaitu satu atau kedua tungkai atas ekstensi, presentasi kaki.Letak sungsang terjadi pada 3-4% dari seluruh persalinan. Kejadian letak sungsang berkurang dengan bertambahnya usia kehamilan. Letak sungsang pada usia kehamilan kurang dari 28 minggu sebesar 25%, pada kehamilan 32 minggu 7% dan, 1-3% pada kehamilan aterm.


Pengertian Kehamilan Sungsang
Kehamilan pada bayi dengan presentasi bokong (sungsang) dimana bayi letaknya sesuai dengan sumbu badan ibu, kepala berada pada fundus uteri, sedangkan bokong merupakan bagian terbawah di daerah pintu atas panggul atau simfisis (Manuab,1998).Pada letak kepala, kepala yang merupakan bagian terbesar lahir terlebih dahulu, sedangkan pesalinan letak sungsang justru kepala yang merupakan bagian terbesar bayi akan lahir terakhir. Persalinan kepala pada letak sungsang tidak mempunyai mekanisme “Maulage” karena susunan tulang dasar kepala yang rapat dan padat, sehingga hanya mempunyai waktu 8 menit, setelah badan bayi lahir. Keterbatasan waktu persalinan kepala dan tidak mempunyai mekanisme maulage dapat menimbulkan kematian bayi yang besar (Manuaba,1998).


Bentuk-Bentuk Letak Sungsang (Manuaba ,1998)).
Berdasarkan komposisi dari bokong dan kaki dapat ditentukan bentuk letak sungsang sebagai berikut :
A. Letak Bokong Murni1. Teraba bokong2. Kedua kaki menjungkit ke atas sampai kepala bayi3. Kedua kaki bertindak sebagai spalk
B. Letak Bokong Kaki Sempurna1. Teraba bokong2. Kedua kaki berada di samping bokong
C. Letak Bokong Tak Sempurna1. Teraba bokong2. Disamping bokong teraba satu kaki
D. Letak Kaki1. Bila bagian terendah teraba salah satu dan atau kedua kaki atau lutut2. Dapat dibedakan letak kaki bila kaki terendah ; letak bila lutut terendahUntuk menentukan berbagai letak sungsang dapat dilakukan dengan melakukan pemeriksaan dalam, pemeriksaan foto abdomen, dan pemeriksaan ultrasonografi.
a. Letak Bokong Murni Flexi pada paha, extensi pada lutut, ini merupakan jenis yang tersering dan meliputi hampir 2/3 presentasi bokong.
b. Letak Bokong Kaki Sempurna Flexi pada paha dan lutut (Frant Greech).
c. Letak Bokong Tak Sempurna / lutut Satu atau dua kaki dengan ekstensi pada kaki merupakan bagian terendah
(Fn Complek Breech).

Etiologi
Faktor-faktor presentasi bokong meliputi prematuritas, air ketuban yang berlebihan. Kehamilan ganda, plasenta previa, panggul sempit, fibra, myoma,hydrocepalus dan janin besar. Banyak yang diketahui sebabnya, ada pesentasi bokong membakal. Beberapa ibu melahirkan bayinya semua dengan presentasi bokong menunjukkan bahwa bentuk panggulnya adalah sedemikian rupa sehingga lebih cocok untuk presentasi bokong daripada presentasi kepala.. Implantasi plasenta di fundus atau di tonus uteri cenderung untuk mempermudah terjadinya presentasi bokong 
( Harry oxorn,1996 )


Penyebab letak sungsang dapat berasal dari 
1. Sudut Ibu
a. Keadaan rahim
1) Rahim arkuatus
2) Septum pada rahim
3) Uterus dupleks
4) Mioma bersama kehamilan
b. Keadaan plasenta
1) Plasenta letak rendah
2) Plasenta previa
c. Keadaan jalan lahir
1) Kesempitan panggul
2) Deformitas tulang panggul
3) Terdapat tumor menjalani jalan lahir dan perputaran ke posisi kepala
2. Sudut janin
Pada janin tedapat berbagai keadaan yang menyebabkan letak sungsang : 
1) Tali pusat pendek atau lilitan tali pusat
2) Hedrosefalus atau anesefalus
3) Kehamilan kembar
4) Hidroamnion atau aligohidromion
5) Prematuritas
Dalam keadaan normal, bokong mencapai tempat yang lebih luas sehingga terdapat kedudukan letak kepala. Disamping itu kepala janin merupakan bagian terbesar dan keras serta paling lambat. Melalui hukum gaya berat, kepala janin akan menuju kearah pintu atas panggul. Dengan gerakan kaki janin, ketegangan ligamentum fatundum dan kontraksi braxson hicks, kepala janin berangsur-angsur masuk ke pintu atas panggul.


Mekanisme persalinan letak sungsang
Mekanisme persalinan letak sungsang berlangsung sebagai berikut :
a) Persalinan bokong
b) Persalinan bahu
c) Persalinan kepala
(Manuaba, 1998)

Bokong masuk pintu atas panggul dapat melintang atau miring mengikuti jalan lahir dan melakukan putaran paksi dalam sehingga trochanter depan berada di bawah simfisis. Dengan trochanter depan sebagai hipomoklion akan lahir trochanter belakang dan selanjutnya seluruh bokong lahir untuk melakukan putaran paksi dalam sehingga bahu depan berada dibawah simfisis. Dengan bahu depan sebagai hipomoklion akan lahir bahu belakang bersama dengan tangan belakang diikuti kelahiran bahu depan dan tangan depan. Bersamaan dengan kelahiran bahu, kepala bayi memasuki jalan lahir dapat melintang atau miring, serta melakukan putaran paksi dalam sehingga suboksiput berada di bawah simfisis. Suboksiput menjadi hipomuklion, berturut-turut akan lahir dagu, mulut, hidung, muka dan kepala seluruhnya. Persalinan kepala mempunyai waktu terbatas sekitar 8 menit, setelah bokong lahir. Melampaui batas 8 menit dapat menimbulkan kesakitan /kematian bayi (Manuaba, 1998).


Diagnosa kedudukan 
1. Pemeriksaan abdominal
a. Letaknya adalah memanjang.
b. Di atas panggul terasa massa lunak mengalir dan tidak terasa seperti kepala. Dicurigai bokong. Pada presentasi bokong murni otot-otot paha teregama di atas tulang-tulang dibawahnya, memberikan gambaran keras menyerupai kepala dan menyebabkan kesalahan diagnostic.
c. Punggung ada di sebelah kanan dekat dengan garis tengah bagian-bagian kecil ada di sebelah kiri, jauh dari garis tengah dan di belakang.
d. Kepala berada di fundus uteri. Mungkin kepala cukup diraba bila kepala ada di bawah tupar/iga-iga. Kepala lebih keras dan lebih bulat dari paha bokong dan kadang-kadang dapat dipantulkan (Balloffablle) dari pada bokong uteri teraba terasa massa yang dapat dipantulkan harus dicurigai presentasi bokong.
e. Tonjolan kepala tidak ada bokong tidak dapat dipantulkan
2. Denyut jantung janin Denyut jantung janin terdengar paling keras pada atau di atas umbilicus dan pada sisi yang sama pada punggung. Pada RSA (Right Sacrum Antorior) denyut jantung janin terdengar paling keras di kuadrat kanan atas perut ibu kadang-kadang denyut jantung janin terdengar di bawah umbilicus3. Pemeriksaan vaginal
1) Bagian terendah teraba tinggi
2) Tidak teraba kepala yang keras, rata dan teratur dengan garis-garis sutura dan fantenella. Hasil pemeriksaan negatif ini menunjukkan adanya mal presentasi.
3) Bagian terendahnya teraba lunak dan ireguler. Anus dan tuber ichiadicum terletak pada satu garis. Bokong dapat dikelirukan dengan muka.
4) Kadang-kadang pada presentasi bokong murni sacrum tertarik ke bawah dan teraba oleh jari-jari pemeriksa. Ia dapat dikelirukan dngan kepala oleh karena tulang yang keras.
5) Sakrum ada di kuadran kanan depan panggul dan diameter gitochanterika ada pada diameter obligua kanan.4. Pemeriksaan Sinar XSinar X menunjukkan dengan tepat sikap dan posisi janin, demikian pula kelainan-kelainan seperti hydrocephalus.


Menurut Prawirohardjo, berdasarkan jalan lahir yang dilalui, maka persalinan sungsang dibagi menjadi :
1. Persalinan Pervaginam
a. Spontaneous breech (Bracht)
b. Partial breech extraction : Manual and assisted breech delivery
c. Total breech extraction
2. Persalinan per abdominal : Seksio Sesaria


Prosedur persalinan sungsang secara spontan :
1. Tahap lambat : mulai lahirnya bokong sampai pusar merupakan fase yang tidak berbahaya.
2. Tahap cepat : dari lahirnya pusar sampai mulut, pada fase ini kepala janin masuk PAP, sehingga kemungkinan tali pusat terjepit.
3. Tahap lama : lahirnya mulut sampai seluruh bagian kepala, kepala keluar dari ruangan yang bertekanan tinggi (uterus) ke dunia luar yang tekanannya lebih rendah sehingga kepala harus dilahirkan perlahan-lahan untuk menghindari pendarahan intrakranial (adanya tentorium cerebellum).


Prosedur Persalinan Bayi Sungsang
( Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal Neonatal,2002)
Langkah klinik
1. Persetujuan tindakan medik
2. Persiapan Pasien :
a) Ibu dalam posisi litotomi pada tempat tidur persalinan
b) Mengosongkan kandung kemih , rektum serta membersihkan daerah perenium dengan antiseptic
Instrumen :
a) Perangkat untuk persalinan
b) Perangkat untuk resusitasi bayi
c) Uterotonika (Ergometrin maleat, Oksitosin)
d) Anastesi lokal (Lidokain 2%)
e) Cunam piper, jika tidak ada sediakan cunam panjang
f) Semprit dan jarum no.23 (sekali pakai)
g) Alat-alat infush) Povidon Iodin 10%i) Perangkat episiotomi dan penjahitan luka episiotomi
Persiapan Penolong
a) Pakai baju dan alas kaki ruang tindakan, masker dan kaca mata pelindung
b) Cuci tangan hingga siku dengan di bawah air mengalir
c) Keringkan tangan dengan handuk DTT
d) Pakai sarung tangan DTT / sterile) Memasang duk (kain penutup)
4.Tindakan Pertolongan Partus Sungsang
a) Lakukan periksa dalam untuk menilai besarnya pembukaan, selaput ketuban dan penurunan bokong serta kemungkinan adanya penyulit.
b) Intruksikan pasien agar mengedan dengan benar selama ada his.
c) Pimpin berulang kali hingga bokong turun ke dasar panggul, lakukan episiotomi saat bokong membuka vulva dan perineum sudah tipis.


Melahirkan bayi :
I. Cara Bracht
1) Segera setelah bokong lahir, bokong dicekam secara bracht (kedua ibu jari penolong sejajar dengan panjang paha, jari-jari yang lain memegang daerah panggul).
2) Jangan melakukan intervensi, ikuti saja proses keluarnya janin.
3) Longgarkan tali pusat setelah lahirnya perut dan sebagian dada.
4) Lakukan hiperlordosis janin pada saat anguluc skapula inferior tampak di bawah simfisis (dengan mengikuti gerak rotasi anterior yaitu punggung janin didekatkan ke arah perut ibu tanpa tarikan) disesuaikan dengan lahirnya badan bayi.
5) Gerakkan ke atas hingga lahir dagu, mulut, hidung, dahi dan kepala.
6) Letakkan bayi di perut ibu, bungkus bayi dengan handuk hangat, bersihkan jalan nafas bayi, tali pusat dipotong.II.

Cara Klasik (Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal Neonatal,2002)
Pengeluaran bahu dan tangan secara klasik dilakukan jika dengan Bracht baht dan tangan tidak bisa lahir.Prosedur :
1) Segera setelah bokong lahir, bokong dicekam dan dilahirkan sehingga bokong dan kaki lahir.
2) Tali pusat dikendorkan.
3) Pegang kaki pada pergelangan kaki dengan satu tangan dan tarik ke atas
a. Dengan tangan kiri dan menariknya ke arah kanan atas ibu untuk melahirkan bahu kiri bayi yang berada di belakang.
b. Dengan tanggan kanan dan menariknya ke arah kiri atas ibu untuk melahirkan bahu kanan bayi yang berada di belakang.
4) Masukkan dua jari tangan kanan atau kiri (sesuai letak bahu belakang) sejajar dengan lengan bayi, untuk melahirkan lengan belakang bayi.
5) Setelah bahu dan lengan belakang lahir kedua kaki ditarik ke arah bawah kontra lateral dari langkah sebelumnya untuk melahirkan bahu dan lengan bayi depan dengan cara yang sama.
III. Cara Muller
Pengeluaran bahu dan tangan secara Muller dilakukan jika dengan cara Bracht bahu dan tangan tidak bisa lahir.Melahirkan bahu depan terlebih dahulu dengan menarik kedua kaki dengan cara yang sama seperti klasik, ke arah belakang kontra lateral dari letak bahu depan.Setelah bahu dan lengan depan lahir dilanjutkan langkah yang sama untuk melahirkan bahu dan lengan belakang.
IV. Cara Lovset
 (Dilakukan bila ada lengan bayi yang terjungkit di belakang kepala / nuchal arm)
(a) Setelah bokong dan kaki bayi lahir memegang bayi dengan kedua tangan. Memutar bayi 180o dengan lengan bayi yang terjungkit ke arah penunjuk jari tangan yang muchal.
(b) Memutar kembali 180o ke arah yang berlawanan ke kiri atau ke kanan beberapa kali hingga kedua bahu dan lengan dilahirkan secara Klasik atau Muller.
V. Ekstraksi Kaki
Dilakukan bila kala II tidak maju atau tampak gejala kegawatan ibu-bayi. Keadaan bayi / ibu mengharuskan bayi segera dilahirkan.
1) Tangan kanan masuk secara obstetrik melahirkan bokong, pangkal paha sampai lutut, kemudian melakukan abduksi dan fleksi pada paha janin sehingga kaki bawah menjadi fleksi,tangan yang lain mendorong fundus ke bawah. Setelah kaki fleksi pergelangan kaki dipegang dengan dua jari dan dituntun keluar dari vagina sampai batas lutut.
2) Kedua tangan penolong memegang betis janin, yaitu kedua ibu jari diletakkan di belakang betis sejajar sumbu panjang paha dan jari-jari lain di depan betis, kaki ditarik turun ke bawah sampai pangkal paha lahir.
3) Pegangan dipindah ke pangkal paha sehingga mungkin dengan kedua ibu jari di belakang paha, sejajar sumbu panjang paha dan jari lain di depan paha.
4) Pangkal paha ditarik curam ke bawah sampai trokhanter depan lahir kemudian pangkal paha dengan pegangan yang sama dievaluasi ke atas hingga trokhanter belakang lahir. Bila kedua trokhanter lahir berarti bokong telah lahir.
5) Sebaliknya bila kaki belakang yang dilahirkan lebih dulu, maka yang akan lahir lebih dahulu ialah trokhanter belakang dan untuk melahirkan trokhanter depan maka pangkal paha ditarik terus cunam ke bawah.
6) Setelah bokong lahir maka dilanjutkan cara Clasik , atau Muller atau Lovset.
VI. Teknik Ekstraksi Bokong
Dikerjakan bila presentasi bokong murni dan bokong sudah turun di dasar panggul, bila kala II tidak maju atau tampak keadaan janin lebih dari ibu yang mengharuskan bayi segera dilahirkan.
1) Jari penunjuk penolong yang searah dengan bagian kecil janin, dimasukkan kedalam jalan lahir dan diletakkan dilipatan paha bagian depan. Dengan jari ini lipat paha atau krista iliaka dikait dan ditarik curam ke bawah. Untuk memperkuat tenaga tarikan ini, maka tangan penolong yang lain menekam pergelangan tadi dan turut menarik curam ke bawah.
2) Bila dengan tarikan ini trokhanter depan mulai tampak di bawah simfisis, maka jari telujuk penolong yang lain mengkait lipatan paha ditarik curam ke bawah sampai bokong lahir.


Cara Melahirkan Kepala Bayi
Cara Mauriceu (dilakukan bila bayi dilahirkan secara manual aid bila dengan Bracht kepala belum lahir).
1) Letakkan badan bayi di atas tangan kiri sehingga badan bayi seolah-olah memegang kuda (Untuk penolong kidal meletakkan badan bayi di atas tangan kanan).
2) Satu jari dimasukkan di mulut dan dua jari di maksila.
3) Tangan kanan memegang atau mencekam bahu tengkuk bayi
4) Minta seorang asisten menekan fundus uteri.
5) Bersama dengan adanya his, asisten menekan fundus uteri, penolong persalinan melakukan tarikan ke bawah sesuai arah sumbu jalan lahir dibimbing jari yang dimasukkan untuk menekan dagu atau mulut..




DAFTAR PUSTAKAProf.Dr.Ida Bagus Gede Manuaba,SpOG;1998.Ilmu KebidananPenyakit Kandungan danKeluarga Berencana Untuk Pendidikan Bidan.Jakarta,EGC.Oxorn,Harry&Forte,William R;1996.Ilmu Kebidanan Patologi & Fisiologi.Jakarta,YayasanEssentia Medica..Prawirohardjo, Sarwono;2002.Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan MaternalNeonatal.Jakarta,JNPKKR_POGI.Cunningham FG et al. Premature Rupture of the Membrane. Williams Obstetric, 22st ed. Mc.Graw Hill Publishing Division, New York, 2005.Wiknjosastro H. Distosia Pada Kelainan Letak Serta Bentuk Janin. Ilmu Kebidanan. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta 2005. Fischer Richard et al, Breech Presentation, e medicine, January 2002.